tinggalnya aku gelap..
hingga aku tak ingat..
Semua kenangan..
Tersungkur aku jatuh ke tanah..
butiran hujan ..
Jatuh ke tanah..
Membasahi tubuh tak bernyawa..
Hidupku menuju gelap..
tak terasa apapun..
Aku berlari tanpa ujung..
Inikah hari kematianku..
Aku hanya bisa termenung..
Kulihat sebuah gerbang..
disana ada malaikat penjaga..
Dan ku berusaha masuk ke dalam..
Namun mereka menghalang..
Akhirnya sang malaikat berkata..
“kau bukan saatnya kemari manusia”
“mengapa??” Tanyaku dalam hati..
“Karena mereka menunggumu untuk bangkit”
Saat itu silau cahaya muncul..
Sangat terang hingga aku melihat langit biru..
aku tersadar dalam mimpiku..
Ternyata masih ada sahabat yang setia padaku..
Sabtu, 16 Juni 2012
CINTA ABADI
setetes cinta ini..
Ingin ku beri padamu..
Kesetiaan Suci penuh kasih..
Kan kupertahankan Untukmu..
Tak kan ingkar dalam Hati..
Untuk setia berbagi..
Demi cinta suci..
Kaulah cinta sejati..
Walaupun di dunia tak ada keabadian..
tak membuat ku gentar..
Untuk tatap mencinta..
Hingga Akhir ayat..
dunia bisa hancur..
daun bisa gugur..
Tapi satu hal yang abadi untuku..
Cintaku padamu..
Ingin ku beri padamu..
Kesetiaan Suci penuh kasih..
Kan kupertahankan Untukmu..
Tak kan ingkar dalam Hati..
Untuk setia berbagi..
Demi cinta suci..
Kaulah cinta sejati..
Walaupun di dunia tak ada keabadian..
tak membuat ku gentar..
Untuk tatap mencinta..
Hingga Akhir ayat..
dunia bisa hancur..
daun bisa gugur..
Tapi satu hal yang abadi untuku..
Cintaku padamu..
KANGEN
ku buka mata hati..
Kau dekat disini..
Walau jauh dari raga ini..
Namun ku menanti hingga akhir..
Kerinduan begitu pekat dalam hati..
Tak sanggup untukku menahan sedih..
Saat kau tak ada disisi..
Dan ku hanya menanti..
kau di hatiku..
Adalah senandung kalbu..
Yang tetap terdengar..
Dalam pekatnya rindu..
Hanya penantian ..
Menanti kau pulang..
Kembali disini..
Untukku yang kau cinta..
Waktu terus bergulir..
Silih berganti..
Tapi aku hanya bisa menunggu dan menanti..
Kau datang padaku kasih..
Kau dekat disini..
Walau jauh dari raga ini..
Namun ku menanti hingga akhir..
Kerinduan begitu pekat dalam hati..
Tak sanggup untukku menahan sedih..
Saat kau tak ada disisi..
Dan ku hanya menanti..
kau di hatiku..
Adalah senandung kalbu..
Yang tetap terdengar..
Dalam pekatnya rindu..
Hanya penantian ..
Menanti kau pulang..
Kembali disini..
Untukku yang kau cinta..
Waktu terus bergulir..
Silih berganti..
Tapi aku hanya bisa menunggu dan menanti..
Kau datang padaku kasih..
Akhiran
Daun kuning menanti berguguran,Pun
akhirnya tak membujuk...
Sedang Kasih dan sayang seakan telah luluh lantak
di injak kuncup,di telan layu
meronta tinggalkan jejak derita
Untuk si mekar tak sempurna
Lalu angin kehidupan yang terlalu memilih menunggu
mengibaskan,dan kemudian
menjatuhkannya ke tanah ibu pertiwi
yang tanpa setetespun dunia ikut menangis
Sedang si mekar tak sempurna tertidur lelap tanpa derita
menunggu sang Malaikat dengan seribu pertanyaannya
yang akhirnya
Si mekar tak sempurna telah binasa tak berdaya...
yang tanpa di kenang,
ataupun menjadi kenangan.
akhirnya tak membujuk...
Sedang Kasih dan sayang seakan telah luluh lantak
di injak kuncup,di telan layu
meronta tinggalkan jejak derita
Untuk si mekar tak sempurna
Lalu angin kehidupan yang terlalu memilih menunggu
mengibaskan,dan kemudian
menjatuhkannya ke tanah ibu pertiwi
yang tanpa setetespun dunia ikut menangis
Sedang si mekar tak sempurna tertidur lelap tanpa derita
menunggu sang Malaikat dengan seribu pertanyaannya
yang akhirnya
Si mekar tak sempurna telah binasa tak berdaya...
yang tanpa di kenang,
ataupun menjadi kenangan.
SERPIHAN KECEWAKU
Langit pagi terlihat gelap
Hampa tak berwarna
Sekejap rasaku tlah hilang
Terbawa angin yang berhembus
Yang tertinggal hanyalah kenangan
Malaikatpun tertawa
Melihatku yang kini hanya bisa terdiam
Cintamu membawaku dalam mimpi-mimpi yang indah
Tapi kini Yang tertinggal
Hanyalah mimpi kosong yang terasa hampa
Terlalu tinggi khayalanku
Terlalu besar anganku tuk berada di sisimu
Namun jawaban itu tak kunjung datang
Langitpun tak terlihat lagi
Semua kebiruannya tertutupkan kabut
Sampai kapan ku harus menunggu?
Disini ku terdiam Memandangimu dengan berjuta harapan dan impian...
Hampa tak berwarna
Sekejap rasaku tlah hilang
Terbawa angin yang berhembus
Yang tertinggal hanyalah kenangan
Malaikatpun tertawa
Melihatku yang kini hanya bisa terdiam
Cintamu membawaku dalam mimpi-mimpi yang indah
Tapi kini Yang tertinggal
Hanyalah mimpi kosong yang terasa hampa
Terlalu tinggi khayalanku
Terlalu besar anganku tuk berada di sisimu
Namun jawaban itu tak kunjung datang
Langitpun tak terlihat lagi
Semua kebiruannya tertutupkan kabut
Sampai kapan ku harus menunggu?
Disini ku terdiam Memandangimu dengan berjuta harapan dan impian...
Akhir Kisah Kita
Saat ku terpejam ...
Aku berharap mataku
Takkan pernah terbuka kembali
Karena aku takkan sanggup melihat kenyataan ini
Ketika kau tak lagi peduli akan hadirku
Saat kehadiranku tak penting bagimu
Ku mulai menyadari
Ini bukan tentang sesuatu atau seseorang
Tapi ini tentang perasaanmu
Yang tidak lagi mencintaiku...
Mungkin ini memang akhir kisah kita
Namun semua kenangan bersamamu
Takkan pernah kuhapus dari ingatanku
Biarlah itu tetap menjadi kenangan terindah dalam hidupku
Yang akan terus ku kenang hari ini, esok, dan untuk selamanya
Aku berharap mataku
Takkan pernah terbuka kembali
Karena aku takkan sanggup melihat kenyataan ini
Ketika kau tak lagi peduli akan hadirku
Saat kehadiranku tak penting bagimu
Ku mulai menyadari
Ini bukan tentang sesuatu atau seseorang
Tapi ini tentang perasaanmu
Yang tidak lagi mencintaiku...
Mungkin ini memang akhir kisah kita
Namun semua kenangan bersamamu
Takkan pernah kuhapus dari ingatanku
Biarlah itu tetap menjadi kenangan terindah dalam hidupku
Yang akan terus ku kenang hari ini, esok, dan untuk selamanya
Lebih dari Indah
membuatmu tersenyum
membuatmu bahagia
itu jauh lebih dari indah
ketika aku jatuh
kau memberiku semangat
melihatmu bersedih
melihatmu kecewa
itu hal yang tak ingin aku bayangkan
ketika kau jatuh
ku memberimu semangat
suatu hari nanti
aku ingin, kau dan aku
saling menatap
memberikan kasih sayang seutuhnya
tak melihat kiri dan kanan
karena hanya jalan didepan yang akan kita tempuh
membuatmu bahagia
itu jauh lebih dari indah
ketika aku jatuh
kau memberiku semangat
melihatmu bersedih
melihatmu kecewa
itu hal yang tak ingin aku bayangkan
ketika kau jatuh
ku memberimu semangat
suatu hari nanti
aku ingin, kau dan aku
saling menatap
memberikan kasih sayang seutuhnya
tak melihat kiri dan kanan
karena hanya jalan didepan yang akan kita tempuh
KATA-KATA MATI
Kata-kata mati mengepungku
Terlalu banyak definisi yg hinggap hingga lidahku kelu
Kata-kata menjadi sedemikian langka
Seolah aku tak mampu membahasakan cintaku padamu
Semua telah terkurung di ruang pengharapanku
Berisi namamu serta berjuta kenangan yg hadir & kumaknai kedalamannya
Aku tak ingin membongkarnya,
Meski kata-kata mati telah menusukkan kesedihan di pusat jantungku
Terlalu banyak definisi yg hinggap hingga lidahku kelu
Kata-kata menjadi sedemikian langka
Seolah aku tak mampu membahasakan cintaku padamu
Semua telah terkurung di ruang pengharapanku
Berisi namamu serta berjuta kenangan yg hadir & kumaknai kedalamannya
Aku tak ingin membongkarnya,
Meski kata-kata mati telah menusukkan kesedihan di pusat jantungku
KABAR HUJAN
Apa kata hujan hari ini?
Dia masih menangis sedih
Karena bumi yang diguyurnya masih menyisakan kemarau
Pohon-pohon belum juga menghijau
Daunnya meranggas
Rantingnya kurus pucat
Hanya akarnya yang tegar menghujam
Setia menanti hujan datang lagi di keesokan harinya
Seperti inikah jejak yang harus kutapaki?
Dia masih menangis sedih
Karena bumi yang diguyurnya masih menyisakan kemarau
Pohon-pohon belum juga menghijau
Daunnya meranggas
Rantingnya kurus pucat
Hanya akarnya yang tegar menghujam
Setia menanti hujan datang lagi di keesokan harinya
Seperti inikah jejak yang harus kutapaki?
Semua Palsu
teringat masa indah bersamamu ..
tiada ragu jalani hidup denganmu ..
banyak kata terucap untukku ..
takku kira semua itu palsu ..
kau hancurkan aku ..
teganya dirimu ..
kau bohongi aku ..
kau duakan cintaku ,,
kau sakiti hati nii yg setia menyayangimu …
banyak kata terucap manis untukku ..
takku kira semua itu palsu ..
kau hancurkan aku ..
teganya dirimu
tiada ragu jalani hidup denganmu ..
banyak kata terucap untukku ..
takku kira semua itu palsu ..
kau hancurkan aku ..
teganya dirimu ..
kau bohongi aku ..
kau duakan cintaku ,,
kau sakiti hati nii yg setia menyayangimu …
banyak kata terucap manis untukku ..
takku kira semua itu palsu ..
kau hancurkan aku ..
teganya dirimu
Kekasih Yang Tak Dianggap
aku mentari tapi tak menghangatkanmu
aku pelangi tak memberi warna di hidupmu
aku sang bulan tak menerangi malammu
aku lah bintang yg hilang ditelan kegelapan
selalu itu yg kau ucapkan padaku
sebagai kekasih yg tak dianggap
aku hanya bisa mencoba mengalah
menahan setiap amarah
aku sang bulan tak menerangi malammu
aku lah bintang yg hilang ditelan kegelapan
sebagai kekasih yg tak dianggap
aku hanya bisa mencoba bersabar
ku yakin kau kan berubah
aku pelangi tak memberi warna di hidupmu
aku sang bulan tak menerangi malammu
aku lah bintang yg hilang ditelan kegelapan
selalu itu yg kau ucapkan padaku
sebagai kekasih yg tak dianggap
aku hanya bisa mencoba mengalah
menahan setiap amarah
aku sang bulan tak menerangi malammu
aku lah bintang yg hilang ditelan kegelapan
sebagai kekasih yg tak dianggap
aku hanya bisa mencoba bersabar
ku yakin kau kan berubah
Lupakan Hati Ini
saat daun kering berjatuhan
angin kemarau membelai diri
ku terdiam terpaku
saat kau memilih tinggalkan ku
tapi tak mengapa
ku tak membendung tangis
kepergianmu
anugrah bagiku
semoga kau temukan kebahagiaan disana
bersamanya lalui dunia
kini ku bahagia bersama sepi
tiada yang lebih baik darimu
selain seseorang yang mau mengerti diriku
kini ku larut dalam pencarian terakhir
kuyakin Tuhan bersamaku
angin kemarau membelai diri
ku terdiam terpaku
saat kau memilih tinggalkan ku
tapi tak mengapa
ku tak membendung tangis
kepergianmu
anugrah bagiku
semoga kau temukan kebahagiaan disana
bersamanya lalui dunia
kini ku bahagia bersama sepi
tiada yang lebih baik darimu
selain seseorang yang mau mengerti diriku
kini ku larut dalam pencarian terakhir
kuyakin Tuhan bersamaku
Remuk Hati Ini
senja menutupi mega
rintik gerimis mewarnai hari
hati yang telah patah
terbasahi hujan air mata
kau pergi tiada pamit
tetes darah yang kau tinggalkan
menjadi luka di hati
Ya Allah…..
tempatkan lah ia di surga-Mu
pertemukan lah kami
dengan Kasih dan Ridha-Mu
Amien.
rintik gerimis mewarnai hari
hati yang telah patah
terbasahi hujan air mata
kau pergi tiada pamit
tetes darah yang kau tinggalkan
menjadi luka di hati
Ya Allah…..
tempatkan lah ia di surga-Mu
pertemukan lah kami
dengan Kasih dan Ridha-Mu
Amien.
DI UJUNG KATA-KATA
Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api
Menyusuri jalanan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan
Dalam derap gerimis yang pongah menghujam
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia yg menenggelamkan nurani
Di atas pengharapan tak berkesudahan
Tentang rindu kusam
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah
Gundah gelisah, air mata, dan lara
Masihkah ada sedikit senyum darimu
Di batas penantianku yang kini makin terbata
Jika masih ada ruang di hatimu
Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah
Pada tanah membentang
Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan
Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba
Janganlah sepi yang hadir
Janganlah semu yang membeku
Karena aku selalu berjalan menujumu
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api
Menyusuri jalanan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan
Dalam derap gerimis yang pongah menghujam
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia yg menenggelamkan nurani
Di atas pengharapan tak berkesudahan
Tentang rindu kusam
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah
Gundah gelisah, air mata, dan lara
Masihkah ada sedikit senyum darimu
Di batas penantianku yang kini makin terbata
Jika masih ada ruang di hatimu
Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah
Pada tanah membentang
Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan
Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba
Janganlah sepi yang hadir
Janganlah semu yang membeku
Karena aku selalu berjalan menujumu
SENJA
Kepada senja aku mengadu
Menangisi kepergianmu dari hidupku…
mengapa bahagia itu hanya sesaat saja..
Laksana hujan yang terus mencumbui bumi…
Laksana gerimis yang selalu mendekap pagi..
Aku disini terpaku dalam diam..
Kepada senja aku mengadu..
Betapa pedih hatiku ini
Kau menghilang bak ditelan bumi..
Hanya goresan kecil yg menyayat kalbu..
kau tancap dalam pilunya hatiku…
Bahwa kau tak bisa mencintaiku…
Kepada senja aku mengadu
Rindu ini menghujam jantungku
Bagai ombak besar yg menghantam dadaku
Hingga aku tak bisa bernafas karena desakan
rasa rindu yg sangat kuat…
Oh cinta mengapa taqdirnya begitu kejam..
Kau berikan aku dia tp kau sekap dia dalam kesunyian malam..
Kini aku hanya pasrah dalam diam
Hatiku telah membeku dimakan waktu
Menangisi kepergianmu dari hidupku…
mengapa bahagia itu hanya sesaat saja..
Laksana hujan yang terus mencumbui bumi…
Laksana gerimis yang selalu mendekap pagi..
Aku disini terpaku dalam diam..
Kepada senja aku mengadu..
Betapa pedih hatiku ini
Kau menghilang bak ditelan bumi..
Hanya goresan kecil yg menyayat kalbu..
kau tancap dalam pilunya hatiku…
Bahwa kau tak bisa mencintaiku…
Kepada senja aku mengadu
Rindu ini menghujam jantungku
Bagai ombak besar yg menghantam dadaku
Hingga aku tak bisa bernafas karena desakan
rasa rindu yg sangat kuat…
Oh cinta mengapa taqdirnya begitu kejam..
Kau berikan aku dia tp kau sekap dia dalam kesunyian malam..
Kini aku hanya pasrah dalam diam
Hatiku telah membeku dimakan waktu
MIMPI YANG HILANG
Dibawah hamparan gelap luas yang bertabur bintang
Aku menatap satu bintang yang paling terang
Aku menatapnya dengan penuh harapan
Seolah itu kau
Yang kini jauh seakan hilang..
Selama ini
Aku mencoba tuk selalu mengerti hatiku
Namun ternyata semua masih semu ku rasakan
Nama yang terukir dalam karang hatiku
Kini seakan terkikis
Oleh ombak yang menghantam..
Aku dan jenuhku, Bersamaan membisu
Terlalu jauh untuk maraih bintang yang sedang ku tatap
Aku dan senyumku
Mengikuti diam termenung
Namun tercipta sebuah mimpi
Yang hilang hanya dalam sekejap
Aku menatap satu bintang yang paling terang
Aku menatapnya dengan penuh harapan
Seolah itu kau
Yang kini jauh seakan hilang..
Selama ini
Aku mencoba tuk selalu mengerti hatiku
Namun ternyata semua masih semu ku rasakan
Nama yang terukir dalam karang hatiku
Kini seakan terkikis
Oleh ombak yang menghantam..
Aku dan jenuhku, Bersamaan membisu
Terlalu jauh untuk maraih bintang yang sedang ku tatap
Aku dan senyumku
Mengikuti diam termenung
Namun tercipta sebuah mimpi
Yang hilang hanya dalam sekejap
Perjalanan Hidup
Oh ! ayahanda
Bukan ini panggilan hormat dan sayang
Di sini sekadar berbahasa
Kita bukan kerabat di raja
Atau Manusia kaya kaya
Ucapan Cik dalam loghat kita
Kata hormat budaya berbicara .
Ayahanda kaya memikul payah
Teringat aku di rumah dulu
Ketika kecil berlari jatuh
Lantai nibung menjadi saksi
Setiap nafas ayahanda hadapi
Gagah berjuang terus mara
Mengubah maju hidup kita
Sejarah hidup di belakang kerbau
Bertukar memandu di jalan raya
Putra putri mu di desa di kota
Menggapai murni cita cita
Moga tidak menjauhi ILLAHI .
Masih teringat di minda anakanda
Ayahanda berdiri di gelanggang pendekar
Gagah perkasa hebat tenaga.
Dunia berputar setiap masa
Warna hitam memutih di kepala
Tegang dahi berkedut berbagai rupa.
Moga ayahanda tidak lupa
Mencari pahala menendang dosa
Biar lemah seluruh anggota
Di hati tetap waja sentiasa
Meyusun bekalan buat hari bakal tiba .
Ayahanda, bonda, anakanda dan siapa siapa
Bila tiba hari kita, tiada lagi masa .
Bukan ini panggilan hormat dan sayang
Di sini sekadar berbahasa
Kita bukan kerabat di raja
Atau Manusia kaya kaya
Ucapan Cik dalam loghat kita
Kata hormat budaya berbicara .
Ayahanda kaya memikul payah
Teringat aku di rumah dulu
Ketika kecil berlari jatuh
Lantai nibung menjadi saksi
Setiap nafas ayahanda hadapi
Gagah berjuang terus mara
Mengubah maju hidup kita
Sejarah hidup di belakang kerbau
Bertukar memandu di jalan raya
Putra putri mu di desa di kota
Menggapai murni cita cita
Moga tidak menjauhi ILLAHI .
Masih teringat di minda anakanda
Ayahanda berdiri di gelanggang pendekar
Gagah perkasa hebat tenaga.
Dunia berputar setiap masa
Warna hitam memutih di kepala
Tegang dahi berkedut berbagai rupa.
Moga ayahanda tidak lupa
Mencari pahala menendang dosa
Biar lemah seluruh anggota
Di hati tetap waja sentiasa
Meyusun bekalan buat hari bakal tiba .
Ayahanda, bonda, anakanda dan siapa siapa
Bila tiba hari kita, tiada lagi masa .
Aku
Hati perasaan dan diri
Ku tulis susunan berbahasa ini
Untuk di nikmati diri
Juga anda yang sudi
Kurang silap usah di caci .
Citaku bukan sasterawan terbilang
Aku senang begini
Manusia kecil biasa biasa .
Punya hati punya rasa bebas berbicara .
Bila terbayang cinta
Akulah perindu ...
Ku tulis susunan berbahasa ini
Untuk di nikmati diri
Juga anda yang sudi
Kurang silap usah di caci .
Citaku bukan sasterawan terbilang
Aku senang begini
Manusia kecil biasa biasa .
Punya hati punya rasa bebas berbicara .
Bila terbayang cinta
Akulah perindu ...
Love Is Cinta
Kumulai bait ini dengan lamunan
Mengenang hari-hari kemarin
Mengira hari-hari berikutnya
Mensyukuri akan hadirnya hari ini
Fiuh .......
Kuhembuskan nafas yang teramat dalam
Seakan ini adalah nafas terakhirku
saat aku akan meraih sebuah keabadian
Tak ada yang abadi di dunia
Yang abadi hanyalah ketidakabadian
Waktu seakan tak mau sejenak beristirahat
Hanya ada aku yang masih terdiam dalam lamunan, disini
Terang dan gelap
Suka dan Duka
Manis dan pahit
Semuanya datang dan pergi silih berganti
Mengapa tak selamanya kurasakan bahagia
Mengapa tak selamanya kurasakan hangat
Mengapa tak selamanya kurasakan sehat
dan Mengapa CINTA tak selamanya kurasakan
Hidup seperti roda
Kadang di atas, kadang di bawah
Namun, seberapa lama roda itu di atas atau dibawah
Tergantung dari sang empu yang menggerakan
Berlarilah meraih impian itu dengan sekuat tenaga
Tertawalah dengan sepenuh rasa selagi kau sempat
Karena akan tiba waktunya untuk jiwamu
Untuk beristirahat dalam keabadian
Mengenang hari-hari kemarin
Mengira hari-hari berikutnya
Mensyukuri akan hadirnya hari ini
Fiuh .......
Kuhembuskan nafas yang teramat dalam
Seakan ini adalah nafas terakhirku
saat aku akan meraih sebuah keabadian
Tak ada yang abadi di dunia
Yang abadi hanyalah ketidakabadian
Waktu seakan tak mau sejenak beristirahat
Hanya ada aku yang masih terdiam dalam lamunan, disini
Terang dan gelap
Suka dan Duka
Manis dan pahit
Semuanya datang dan pergi silih berganti
Mengapa tak selamanya kurasakan bahagia
Mengapa tak selamanya kurasakan hangat
Mengapa tak selamanya kurasakan sehat
dan Mengapa CINTA tak selamanya kurasakan
Hidup seperti roda
Kadang di atas, kadang di bawah
Namun, seberapa lama roda itu di atas atau dibawah
Tergantung dari sang empu yang menggerakan
Berlarilah meraih impian itu dengan sekuat tenaga
Tertawalah dengan sepenuh rasa selagi kau sempat
Karena akan tiba waktunya untuk jiwamu
Untuk beristirahat dalam keabadian
HARI TERLARANG
Kringgg kringgg kringgg bel sekolah berbunyi, tenda masuk sekolah. Raisa yang emang lAngganan kesiangan masih santai-santai berjalan mendekati gerbang sekolah diantar oleh kakaknya.
“Udah masuk ya Sa?” tanya Isar, kakak Raisa
“Iyaaaa, pokokknya ade gak mau tau! Kakak harus ngasih alasan ke guru yang ada di kelas ade. Biar ade bisa belajar”
“Yaaaaaaaaa. Kasian banget ya, baru juga minggu kemarin MOS, udah dapet point gara-gara kesiangan”
Sesampainya di kelas Raisa, Isar memberikan penjelasan secara detail kepada guru yang sedang mengajar di kelas Raisa. Syukurnya Raisa tidak mendapatkan point tambahan dari guru tersebut.
Itulah kegiatan Raisa selama pagi hari. Bangun pukul 05.00 dan pergi ke sekolah pukul 06.30 diantar oleh kakaknya. Emang sih Raisa kesiangan gara-gara diantar oleh kakanya. Tapi mau gimana lagi? rumah Raisa sangat jauh dari sekolahnya. Jadi gak ada ojej gratis lagi selain kakaknya. Meskipun harus selalu telat kalau datang ke sekolah. Tapi meskipin Isar adalah penyebab utamanya Raisa kesiangan, Isar adalah sosok kakak yang sangat perhatian sama Raisa. Isar selalu membantu PR Raisa, ngebuatin makan kalau di rumah gak ada siapa-siapa. Baik deh pokokknya. Raisa sendiri adalah remaja perempuan yang cinta banget sama musik. Raisa bisa memainkan berbagai macam alat musik. Yang luar biasanya lagi Raisa belajar sendiri alat musik itu. Wajar aja sih karena ibu dan bapaknya juga cinta sama musik. Dibalik semua itu ada juga yang Raisa benci. Perpisahan. Satu kata yang sangat dibenci oleh Raisa. Ia tidak menginginkan hal itu.
Saat pulang sekolah, Raisa kaget melihat kakanya mengemas barang di kamarnya. Hal yang memang tidak biasa Isar kerjakan, karena menurut Raisa kakakya itu paling tidak bisa jika disuruh beres-beres. Ternyata Isar harus pergi kuliah ke Australia besok pagi, dan menetap di Australi selama 3 tahun.
Dari Raisa pulang sekolah sampai pukul 23.00, Raisa dan Isar menghabiskan waktu bersama. Apapun yang mereka lakukan pada hari itu akan menjadi kenangan yang akan Raisa ingat. Ibunda mereka tidak marah ketika mengetahui anak-anaknya terjaga kurang lebih 12 jam. Karena kapan lagi kedua anaknya itu dapat seperti itu. Tiga tahun yag akan datang Raisa sudah lulus SMA, dan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dan mungkin Isar sudah sibuk dengan pelamaran kerja atau mungkin Isar sudah kerja.
***
Pagi-pagi sekali Raisa bersiap untuk mengantar kakaknya ke bandara, sebenarnya Raisa tidak mau melihat kakaknya pada pagi hari itu, tapi karena ini adalah pertemuan terakhir Raisa dengan kakaknya yang akan pergi kuliah selama 3 tahun, terpaksa Raisa ikut. Di bandara Isar memberikan jam tangannya kepada adiknya.
“Sa, simpen ini yaaa. Jangan kangen deh. Terus jangan cengeng yaa adikku sayang. Jam tangan ini berputar gak akan kerasa kok. Tau-tau kakak lo ini udah ada di Indonesia lagi dan bisa main sama adiknya lagi” ucap Isar di bandara. Raisa hanya bisa menerima jam tangan tersebut tanpa berkata apapun. Setelah pesawat terbang, Raisa pergi ke sekolah dengan mata yang masih bengkak.
“Baru aja perpisahan di SMP, masa kakak gue udah ninggalin gue ke Australi?” ucap Raisa kepada teman sebangkunya.
“Sa, setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan. Tenang aja, raga lo sama kakak lo emang pisah, tapi jiwa lo dan kakak lo gak akan pisah Saaa. Percaya deh sama gue” kata Riri.
Dari situ Raisa baru menyadari banwa sebenarnya perpisahan itu bukan ajang untuk menangisi keadaan, melainkan ajang untuk melatih kedekatan batin. Menurut Raisa perpisahan itu sangat terlarang tapi tetap saja meninggalkan kesan yang sangat dalam.
“Udah masuk ya Sa?” tanya Isar, kakak Raisa
“Iyaaaa, pokokknya ade gak mau tau! Kakak harus ngasih alasan ke guru yang ada di kelas ade. Biar ade bisa belajar”
“Yaaaaaaaaa. Kasian banget ya, baru juga minggu kemarin MOS, udah dapet point gara-gara kesiangan”
Sesampainya di kelas Raisa, Isar memberikan penjelasan secara detail kepada guru yang sedang mengajar di kelas Raisa. Syukurnya Raisa tidak mendapatkan point tambahan dari guru tersebut.
Itulah kegiatan Raisa selama pagi hari. Bangun pukul 05.00 dan pergi ke sekolah pukul 06.30 diantar oleh kakaknya. Emang sih Raisa kesiangan gara-gara diantar oleh kakanya. Tapi mau gimana lagi? rumah Raisa sangat jauh dari sekolahnya. Jadi gak ada ojej gratis lagi selain kakaknya. Meskipun harus selalu telat kalau datang ke sekolah. Tapi meskipin Isar adalah penyebab utamanya Raisa kesiangan, Isar adalah sosok kakak yang sangat perhatian sama Raisa. Isar selalu membantu PR Raisa, ngebuatin makan kalau di rumah gak ada siapa-siapa. Baik deh pokokknya. Raisa sendiri adalah remaja perempuan yang cinta banget sama musik. Raisa bisa memainkan berbagai macam alat musik. Yang luar biasanya lagi Raisa belajar sendiri alat musik itu. Wajar aja sih karena ibu dan bapaknya juga cinta sama musik. Dibalik semua itu ada juga yang Raisa benci. Perpisahan. Satu kata yang sangat dibenci oleh Raisa. Ia tidak menginginkan hal itu.
Saat pulang sekolah, Raisa kaget melihat kakanya mengemas barang di kamarnya. Hal yang memang tidak biasa Isar kerjakan, karena menurut Raisa kakakya itu paling tidak bisa jika disuruh beres-beres. Ternyata Isar harus pergi kuliah ke Australia besok pagi, dan menetap di Australi selama 3 tahun.
Dari Raisa pulang sekolah sampai pukul 23.00, Raisa dan Isar menghabiskan waktu bersama. Apapun yang mereka lakukan pada hari itu akan menjadi kenangan yang akan Raisa ingat. Ibunda mereka tidak marah ketika mengetahui anak-anaknya terjaga kurang lebih 12 jam. Karena kapan lagi kedua anaknya itu dapat seperti itu. Tiga tahun yag akan datang Raisa sudah lulus SMA, dan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dan mungkin Isar sudah sibuk dengan pelamaran kerja atau mungkin Isar sudah kerja.
***
Pagi-pagi sekali Raisa bersiap untuk mengantar kakaknya ke bandara, sebenarnya Raisa tidak mau melihat kakaknya pada pagi hari itu, tapi karena ini adalah pertemuan terakhir Raisa dengan kakaknya yang akan pergi kuliah selama 3 tahun, terpaksa Raisa ikut. Di bandara Isar memberikan jam tangannya kepada adiknya.
“Sa, simpen ini yaaa. Jangan kangen deh. Terus jangan cengeng yaa adikku sayang. Jam tangan ini berputar gak akan kerasa kok. Tau-tau kakak lo ini udah ada di Indonesia lagi dan bisa main sama adiknya lagi” ucap Isar di bandara. Raisa hanya bisa menerima jam tangan tersebut tanpa berkata apapun. Setelah pesawat terbang, Raisa pergi ke sekolah dengan mata yang masih bengkak.
“Baru aja perpisahan di SMP, masa kakak gue udah ninggalin gue ke Australi?” ucap Raisa kepada teman sebangkunya.
“Sa, setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan. Tenang aja, raga lo sama kakak lo emang pisah, tapi jiwa lo dan kakak lo gak akan pisah Saaa. Percaya deh sama gue” kata Riri.
Dari situ Raisa baru menyadari banwa sebenarnya perpisahan itu bukan ajang untuk menangisi keadaan, melainkan ajang untuk melatih kedekatan batin. Menurut Raisa perpisahan itu sangat terlarang tapi tetap saja meninggalkan kesan yang sangat dalam.
Rabu, 06 Juni 2012
Ayah
waktu terus berlalu
perjalanan hidup pernah kau tempuh
tak ada kata jenuh,
tak ada kata malas,
tak ada kata lelah,
kau berjalan dengan semangat
perjuangan hidup yang penuh liku
keringat yang tak henti membasahi tubuhmu
kau lewati dengan kesabaran dan keikhlasan
ayah…..
kaulah hidupku yang memberiku semangat
mengajarkanku kesabaran,kebaikan,keberanian
banyak ilmu kehidupan yang kau berikan kepadaku
keringat yang kau teteskan adalah semangatku
ayah….
mungkin di dunia ini kau telah tiada
tapi di dalam hatiku kau tak akan pernah sirna
walaupun kau telah meninggalkanku
tapi semangat dan doamu masih saja aku rasakan
ayah….
jangan pernah merasa kesepian
doaku kan selalu menemanimu
selamat jalan ayah,semoga kau tenang di alam sana
bersama doa -doa kami disini.
perjalanan hidup pernah kau tempuh
tak ada kata jenuh,
tak ada kata malas,
tak ada kata lelah,
kau berjalan dengan semangat
perjuangan hidup yang penuh liku
keringat yang tak henti membasahi tubuhmu
kau lewati dengan kesabaran dan keikhlasan
ayah…..
kaulah hidupku yang memberiku semangat
mengajarkanku kesabaran,kebaikan,keberanian
banyak ilmu kehidupan yang kau berikan kepadaku
keringat yang kau teteskan adalah semangatku
ayah….
mungkin di dunia ini kau telah tiada
tapi di dalam hatiku kau tak akan pernah sirna
walaupun kau telah meninggalkanku
tapi semangat dan doamu masih saja aku rasakan
ayah….
jangan pernah merasa kesepian
doaku kan selalu menemanimu
selamat jalan ayah,semoga kau tenang di alam sana
bersama doa -doa kami disini.
Seekor Buaya dan Monyet
Disuatu tempat ada hutan lebat dan didalam hutan tersebut ada sebuah
danau, didalamnya hidup seekor buaya. Disekeliling danau, terdapat
banyak pohon-pohon rindang yang selalu ditempati dan ditinggali
monyet-monyet hutan. Suatu hari, seekor monyet sedang bermain-main
dipohon yang rindang itu. Sedang asyik-asyiknya bermain, sang monyet
melihat sang buaya yang sedang berendam. sang monyet pun menyapa sang
buaya tersebut. "hai pak buaya". Dengan cueknya sang buaya menjawab "hai
monyet tengil". sang monyet merasa tersindir dengan sapaan sang buaya
dengan sebutan monyet tengil. Tetapi sang monyet bersikap biasa dan
berkata kembali, "hai pak buaya, dapatkah kau berayun sepertiku? dengan
acuhnya sang buaya menjawab, "tidak". Sang monyet berkata kembali,
"dapatkah kau meloncat dari pohon ke pohon sepertiku?". sang buaya
dengan singkatnya menjawab, "tidak". sang monyet merasa ia dapat
melakukan berbagai hal yang tak dapat dilakukan olehg sang buaya.
kemudian kembali sang monyet bertanya, "pak buaya, bagaimana dengan
bersandar diatas pohon? dapatkah kau melakukannya?" dengan cuek sekali
sang buaya menjawab "tidak!" sang monyet hanya tertawa, ia merasa sakit
hatinya atas perkataan tengil dari sang buaya sudah terbalaskan dengan
cara lain. sang buaya berkata kembali dan berbalik bertanya, "hey
monyet, dapatkah kau berenang sepertiku?" dengan angkihnya sang monyet
menjawab, "bisa, aku bisa melakukan apapun. tidak seperti kau pak buaya
tua hahaha". sang buaya menjawab, "baiklah, coba kau kemari dan
berenanglah bersamaku. dengan semangatnya sang monyet melompat dari atas
pohon dan berenang. Tidak lama sang buaya berkata "hap! dapat kau!
hahah" ternyata itu jebakan sang buaya untuk memakan sang monyet.
SEKIAN
SEKIAN
PUISI : Do'aku
Berikanlah hambamu ini kesabaran dan keikhlasan
Agar kelak hamba menjadi seseorang yang penuh dengan kesabaran
Dengan penuh keikhlasan
Ya Allah . . .
Berikanlah waktumu untukku
Untuk hati yang penuh kesabaran
Hati yang penuh keikhlasan
Dan disepanjang jalan hidupku
Ya Allah . . .
Berikanlah hambaMu ini kekuatan
Dalam hati, jiwa dan raga
Jauhkanlah hamba dari godaan-godaan
Godaan syetan dan hawa nafsu
Ya Allah . . .
Allah yang Maha Kuasa dan Maha Esa
Permintaanku hanya satu,
Tolong kabulkanlah do'aku
Aamin
Berikanlah hambaMu ini kekuatan
Dalam hati, jiwa dan raga
Jauhkanlah hamba dari godaan-godaan
Godaan syetan dan hawa nafsu
Ya Allah . . .
Allah yang Maha Kuasa dan Maha Esa
Permintaanku hanya satu,
Tolong kabulkanlah do'aku
Aamin
BUNDA
Sekian lama aku tersesat
Kenapa aku terlambat
Menyadari kau urat nadiku
Menyadari kau udara yang ku hirup
Menyadari perasaan perih tulus
Kau telah menentang segala bahaya
Bahkan maut sekalipun
Kau menyalurkan nafas
Saat kau mempertaruhkan nyawa
Diujung kematian
Saat kau merasakan daging terkoyak
Urat yang bagian terputus-putus
Dan darah yang mendidih mengalir
Aku lupa….aku lalai
Akan jeritan dan rintihanmu
Akan lengkingan sakitmu
Akan lengkingan sakitmu
Akan derasnya keringat panas dinginmu
Akan kelelahan yang mendera tubuhmu
Aku lupa….segalanya
Seberapapun banyak mutiara
Yang akan ku berikan
Tak akan mampu menggantikan cinta
Dan pengorbananmu...!
Kenapa aku terlambat
Menyadari kau urat nadiku
Menyadari kau udara yang ku hirup
Menyadari perasaan perih tulus
Kau telah menentang segala bahaya
Bahkan maut sekalipun
Kau menyalurkan nafas
Saat kau mempertaruhkan nyawa
Diujung kematian
Saat kau merasakan daging terkoyak
Urat yang bagian terputus-putus
Dan darah yang mendidih mengalir
Aku lupa….aku lalai
Akan jeritan dan rintihanmu
Akan lengkingan sakitmu
Akan lengkingan sakitmu
Akan derasnya keringat panas dinginmu
Akan kelelahan yang mendera tubuhmu
Aku lupa….segalanya
Seberapapun banyak mutiara
Yang akan ku berikan
Tak akan mampu menggantikan cinta
Dan pengorbananmu...!
Bayi Lahir Bulan Mei 1998
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya
Syair Orang Lapar
Oleh Taufik Ismail
Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau
Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Oleh Taufik Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
AKU TULIS PAMPLET INI
AKU TULIS PAMPLET INI KARENA LEMBAGA PENDAPAT UMUM DITUTUPI JARING LABAH-LABAH ORANG-ORANG BICARA DALAM KASAK-KUSUK, DAN UNGKAPAN DIRI DITEKAN MENJADI PENG-IYA-AN APA YANG TERPEGANG HARI INI BISA LUPUT BESOK PAGI KETIDAK PASTIAN MERAJALELA DI LUAR KEKUASAAN KEHIDUPAN MENJADI TEKA-TEKI, MENJADI MARABAHAYA, MENJADI ISI KEBON BINATANG APABILA KRITIK HANYA BOLEH LEWAT SALURAN RESMI MAKA HIDUP AKAN MENJADI SAYUR TANPA GARAM LEMBAGA PENDAPAT UMUM TIDAK MENGANDUNG PERTANYAAN TIDAK MENGANDUNG PERDEBATAN DAN AKHIRNYA MENJADI MONOPOLI KEKUASAAN AKU TULIS PAMPLET INI KARENA PAMPLET BUKAN TABU BAGI PENYAIR AKU INGINKAN MERPATI POS AKU INGIN MEMAINKAN BENDERA-BENDERA SEMAPHORE DI TANGANKU AKU INGIN MEMBUAT ISYARAT ASAP KAUM INDIAN AKU TIDAK MELIHAT ALASAN KENAPA HARUS DIAM TERTEKAN DAN TERMANGU AKU INGIN SECARA WAJAR KITA BERTUKAR KABAR DUDUK BERDEBAT MENYATAKAN SETUJU ATAU TIDAK SETUJU KENAPA KETAKUTAN MENJADI TABIR PIKIRAN ? KEKHAWATIRAN TELAH MENCEMARKAN KEHIDUPAN KETEGANGAN TELAH MENGGANTI PERGAULAN PIKIRAN YANG MERDEKA MATAHARI MENYINARI AIRMATA YANG BERDERAI MENJADI API REMBULAN MEMBERI MIMPI PADA DENDAM GELOMBANG ANGIN MENYINGKAPKAN KELUH KESAH YANG TERONGGOK BAGAI SAMPAH KEGAMANGAN KECURIGAAN KETAKUTAN KELESUAN AKU TULIS PAMPLET INI KARENA KAWAN DAN LAWAN ADALAH SAUDARA DI DALAM ALAM MASIH ADA CAHAYA MATAHARI YANG TENGGELAM DIGANTI REMBULAN LALU BESOK PAGI PASTI TERBIT KEMBALI DAN DI DALAM AIR LUMPUR KEHIDUPAN AKU MELIHAT BAGAI TERKACA : TERNYATA KITA, TOH, MANUSIA ! |
Sajak Rajawali
Sajak Sebatang Lisong
menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan aku bertanya tetapi pertanyaan - pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet dan papantulis - papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan delapan juta kanak - kanak menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan tanpa pepohonan tanpa dangau persinggahan tanpa ada bayangan ujungnya .......................... menghisap udara yang disemprot deodorant aku melihat sarjana - sarjana menganggur berpeluh di jalan raya aku melihat wanita bunting antri uang pensiunan dan di langit para teknokrat berkata : bahwa bangsa kita adalah malas bahwa bangsa mesti dibangun mesti di up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor gunung - gunung menjulang langit pesta warna di dalam senjakala dan aku melihat protes - protes yang terpendam terhimpit di bawah tilam | |
Perpisahan Cinta
Cintaku
Kini kau telah tiada
Menemui Sang Pencipta
Kekasihku
Kini kau tinggalkanku sebatang kara
Menggores luka perihku yang lama
Pujaanku
Belahan jiwa ragaku
Selimut hati dingin sukmaku
Rumah teduh penenang galau kalbuku
Kini kau tak lagi ada
Menemani kisah cinta yang telah kita arungi bersama
Mengayuh sepeda kemesraan yang telah kita jalani berdua
Sedih sudah diambang akhir
Terasa kuyup hati ini tersambar petir
Perpisahan Sahabat
Sahabat,
Perpisahan ini terlalu cepat
Secepat kilat
Entah apa yang harus 'ku katakan
Ingin sekali air mata ini 'ku teteskan
Terasa sedih pilu terasa sangat kehilangan
Padahal kemarin kau masih di sini
Menonton TV
Join kopi
Kenanganmu akan selalu 'ku ingat
Canda tawamu yang hangat
Akan terus menghiasi hariku
Hari-hari yang kian berat
Seberat hari kau tiada di sini
Selamat jalan kawan
Do'aku selalu mengiringi kepergianmu
Pisah Dalam Satu Wadah
hari masih pagi
ketika kusadari sekat pemisah
dalam sebuah gedung yang megah
penuh pernak-pernik istana
namun itu bagi mereka
baru saja burung berkicau diatas ranting
membangunkan aku dari tidur panjangku
aku bukanlah merak yang mempunyai bulu indah
aku juga bukan peri cantik
aku hanya kurcaci kecil dalam wadah
ingin rasanya kuhancurkan sekat itu
karena rasa ketidak adilan
tapi sayang, glamour hidup didalamnya
membuat aku teriris mundur
betapa terbatas gerakku saat ini
karena sekat istana raja
aku juga bukan siapa-siapa
hanya seperti ranting kering
di sebuah pohon yang rindang
ketika kusadari sekat pemisah
dalam sebuah gedung yang megah
penuh pernak-pernik istana
namun itu bagi mereka
baru saja burung berkicau diatas ranting
membangunkan aku dari tidur panjangku
aku bukanlah merak yang mempunyai bulu indah
aku juga bukan peri cantik
aku hanya kurcaci kecil dalam wadah
ingin rasanya kuhancurkan sekat itu
karena rasa ketidak adilan
tapi sayang, glamour hidup didalamnya
membuat aku teriris mundur
betapa terbatas gerakku saat ini
karena sekat istana raja
aku juga bukan siapa-siapa
hanya seperti ranting kering
di sebuah pohon yang rindang
Langganan:
Postingan (Atom)